Anonymous asked: kenapa sih nggak manjangin rambut?
panas. dan gak sesuai dengan pencitraan diri. *krik..
Never dive to deep, keep snorkling on the surface.
- About Love. [Dee]
Anonymous asked: kenapa sih nggak manjangin rambut?
panas. dan gak sesuai dengan pencitraan diri. *krik..
Di Kompas cetak edisi Sabtu, 4 November 2010 hari ini, sebuah artikel terpampang mantap menjadi headline,
Batu Bara dan Sawit di Balik Orang Kaya RI
Isi artikel itu kurang lebih adalah daftar orang-orang terkaya versi majalah Forbes Indonesia. Beberapa nama pengusaha terkenal yang sudah tak asing lagi pun ada di sana. Seperti R. Budi dan Michael Hartono, Eka Tjipta Widjaja si pemilik perusahaan kelapa sawit Golden Agri Resources, Martua Sitorus, dan tentu saja om “Ical” yang terkenal di Indonesia.
Empat nama pertama memiliki bisnis yang bergerak di pengelolaan kelapa sawit, sementara Aburizal Bakrie sendiri terdaftar sebagai salah satu pemilik usaha batu bara.
Lalu, mulai terdengar celoteh di sana-sini. Protes karena kekayaan jutaan hektar menjadi aset sekian orang. Yang kaya dihujat-hujat, dikata tak peduli sesama. Mengeruk harta negara untuk menjadi semakin berada. Ada pula yang mengkaji, merinci rejeki.
Hahahaha… Lucu.
Ini bukan pembelaan, bagi saya itu tak menguntungkan. Cuma sedikit terheran-heran, apakah sekelompok orang tadi yang mengumpat memaki tak coba mengkaji lebih rinci, berapa banyak lowongan pekerjaan bagi buruh kebun, buruh pabrik yang telah para pengusaha itu ikut sumbangkan. Apakah sekelompok orang tadi yang menghujat dengan kata tak coba menelaah lebih dalam lagi, berapa banyak tempat tinggal yang telah dibangun para pengusaha ini sebagai rumah dinas bagi para pekerjanya. Atau mungkin sejumlah sekolah yang ada di kompleks perkebunan seluas beratus-ratus hektar yang sengaja dibangun bagi anak-anak para pekerja mereka.
Tak sebanding. Manusia memang berbakat menjadi akuntan, karena selalu memikirkan perbandingan.
Tapi ada baiknya kita tak pernah melupakan hal baik yang pernah orang lain lakukan, hanya karena hal tak baik yang diperbuatnya lebih banyak bila dijumlahkan.
Sekadar untuk pembelajaran.
Stabat, 4 Desember 2010
Air tidak hanya bisa disaring melalui akar tumbuhan. Saringan alam terbaik untuk mengembalikan air menjadi zat netral dipegang oleh batu dan pasir yang dilaluinya selama proses kembali ke sungai dan laut.
Air memiliki siklus paling sempurna dari semua sumber alam yang lainnya. Minum sebanyak satu galon air per-hari, maka akan mengeluarkan kembali sebanyak jumlah yang sama. Entah itu melalui keringat ataupun air seni. Dan air akan mengalami prosesnya untuk kembali menjadi bersih.
Jadi tak perlu khawatir, bahkan kalaupun jumlah hutan semakin tipis di dunia ini. Kita, manusia, tak akan pernah kehabisan air untuk dinikmati.
***
Tahukah anda, bahwa kera dan gorilla bernafas lebih banyak dan lebih sering dari manusia? Tahukah anda bahwa jumlah keseluruhan udara yang dibutuhkan untuk bernafas bagi satu manusia, tak sampai sepertiga dari yang seekor T-rex butuhkan setiap harinya.
Lalu untuk apa takut kehabisan stok udara bersih? Mengapa repot-repot membebani diri dengan kekhawatiran akan anak-cucu masa depan yang tak lagi bisa menikmati semua ini?
***
Padahal dalam sejarah pun sudah dicatatakan, sejarah tentang kepunahan sekian macam makhluk sebelum kita. Padahal sudah kita saksikan bukti-buktinya, betapa alam telah didera sekian macam kehancuran, dan masih bertahan hingga sekarang.
Kalau sudah begini, siapa membodohi siapa? Pikiran manusia menganiaya dengan fakta-fakta terbaru yang kebanyakan hasil rekayasa.
Dengar, sebenar-benarnya fakta adalah data yang disajikan 100% di atas meja, bukanlah catatan 80% atas hasil pengamatan. Kata siapa manusia tidak akan bisa bertahan bila mengalami zaman es kembali? Tidakkah terlalu merendahkan? Bila Mamot pun berhasil hidup, tapi kita diragukan?
Kata siapa kalau atmosfir menjadi semakin tipis, kulit tak akan cukup kuat menahan terpaan sinar Ultraviolet dari Matahari tanpa saringan? Tidakkah percuma kita diberi kemampuan naluri bertahan seimbang dengan binatang, beserta tambahan akal yang bisa digunakan dengan sempurna?
***
Kemudian apa yang perlu ditakuti?
Propaganda paranoia oleh media membuat kita seolah lebih lemah dari yang seharusnya. Kampanye-kampanye selamatkan Bumi beserta isinya. Bagaimana kalau diganti menjadi, selamatkan dirimu sendiri.
Karena ternyata, selama berjuta-juta tahun, alam sudah membuktikan, kitalah yang akan kalah. Bukan mereka. Dan alam tidak pernah membunuh. Maka tenang, tenanglah. Jangan lupa lihat sekitar, karena pembunuh nomor satu ada di balik cermin ketika setiap manusia berkaca.
***
Bumi, 23 Oktober 2010
Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang berbicara dengan suara riuh rendah, tangisan anak kecil yang belajar kecewa lebih awal dari seharusnya, ibunya yang mengucap pamit ratusan kali, dering telepon, gelak tawa anak muda, desah nafas berpacu birahi, deru mobil, teriakan marah, bunyi pecahan botol di atas kepala, dentuman musik, bola billyard terpukul tongkat beradu satu sama lain, di dalam kepalanya ada dunia.
Dia bangkit dari tempat tidurnya, duduk di tepian yang rendah dengan kaki menekuk menyangga kedua siku. Tangannya meremas rambut, sebelah kanan kadang memukul kepalanya dengan keras.
Di dalam kepalanya ada hujan, derap langkah orang berlari, tangis bercampur jeritan adik perempuannya, bunyi halus jarum suntik menembus kulit tangan yang mulus, bungkus plastik dirobek paksa, gelas diadu saling bersulang, omelan ibunya setelah dering tak berkesudahan, angin menggesek wajahnya saat dikeluarkan melalui jendela dari mobil yang tengah melaju, tepuk tangan menggema, di dalam kepalanya penuh cerita.
Dia melemaskan otot leher dengan gerakan memutar, sambil kedua tangan memijat tengkuknya, tak banyak membawa pengaruh. Ditelannya cepat dua butir obat pembunuh rasa sakit dengan bantuan segelas air dingin.
Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang saling menampar, pertemuan kulit dengan hentakan tangan, keyboard ditekan tak beraturan, biola digesek pelan, tuts piano ditekan sembarangan, nyanyian, minyak yang memanas bertemu kentang mentah, kemeja yang dipepatkan dalam tas, rambut diacak oleh tangan, matahari pagi dan hingar bingar aktivitas, peluru yang menembus dada, tetesan darah menghasilkan bunyi satuan, di dalam kepalanya terkisah kehidupan.
Dia mengambil mp3 player di atas meja sebelah tempat tidur, memasang earphone dan memutar sebuah lagu bertempo cepat namun melodis. Dikeraskannya volume hingga maksimal dan memenuhi kedua gendang telinganya, menutupi ratusan, ribuan, bahkan jutaan suara yang membuat kepalanya terasa hampir pecah.
Ada suara gemuruh selain yang terdengar langsung di telinganya, lelaki itu bangkit dan bergerak ke arah jendela yang sejak tadi tertutupi tirai tebal menghalangi cahaya. Di luar hujan, deras, dan lepas.
Ditutupnya tirai itu dan kembali ke atas tempat tidur, dibaringkannya tubuh, masih dengan musik kencang terpasang. Kepalanya pun masih sakit hingga membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perut.
Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang berbisik dengan suara samar, erangan ayahnya yang mati oleh timah panas, pidato terakhir presiden diktator, tudingan dan makian anak koruptor, bentakan dua lelaki berpakaian loreng hitam, teriakan mengancam, ketukan keras dan kasar di pintu depan rumah, ibunya yang tertawa sambil menangkupkan kedua tangan di dada, duda yang tertawa di samping ibunya, bunyi sepatu adiknya bergesek lantai diseret ke mobil dengan paksa, ayahnya terkapar berdarah, desah nafasnya di balik lemari kayu jati, degup jantung ketakutan, di dalam kepalanya ada sejarah tak tertuliskan.
Di dalam kepalanya saja. Sebelum dia menutup mata, suara ayahnya di telepon yang terdistorsi bunyi butiran air hujan beradu dengan tanah, kembali menggema, cerita rahasia yang harus dibawa mati bersamanya. Cukup di dalam kepalanya saja.
Lelaki itu menelungkupkan tubuh dan menenggelamkan muka ke dalam bantal tipisnya. Meremas rambut dengan kedua tangan, sambil sesekali yang kanan memukul tengkorak kepala dengan keras. Delapan butir obat penahan sakit telah dia habiskan. Dia tahu sakitnya akan segera hilang, dan datang lagi nanti, saat kembali turun hujan.
Jakarta, 12 Maret 2011
Denting statis sirene penanda waspada berbunyi di kejauhan, berikutnya terdengar raung kereta api. Setelahnya kembali hening mengantarkan detak jarum jam yang tergantung di dinding. Bayu melihat jam itu, pukul tiga pagi lebih tujuh menit. Dia masih berbaring di tepian tilam kapuk yang tipis.
Beberapa bungkus obat berserak di atas lantai semen berwarna hitam. Obat itu telah dihabiskannya tiga malam lalu, bersama sekaleng bir lokal yang telah kosong pula. Selama tiga hari juga dia tak beranjak dari kamar kos berukuran mini itu.
Pikirannya melayang. Pada kekasih yang baru saja terbang ke Papua, melanjutkan penelitiannya tentang budaya Indonesia. Pada sampul album solo-nya yang baru saja jadi. Pada beberapa kawan yang terakhir dia temui, dan diharapkannya akan segera datang mengunjungi.
Sebuah ketukan pelan di pintu kamar yang disertai dua suara bergantian memanggil namanya, memecah lamunan. Bayu diam saja tak bereaksi.
“Ndak ada orangnya ‘e, Mas. Dari semalem dipanggil yo gak nyaut ‘ik! Pergi mungkin.” Seorang laki-laki, si penjaga kos, menegur mereka.
“Gak kok, Mas. Terakhir pulang dari tempat saya Rebo kemaren, gak kemana-mana, lagi sakit. Tapi ini hapenya ditelepon mati. Tidur mungkin ya, udah jam segini juga soalnya.” Bayu mendengar seorang temannya di luar menyahuti.
Mata Bayu masih menyusuri garis siku langit-langit yang patah, ketika sebuah suara lain yang dikenalnya sebagai kawan juga, angkat bicara.
“Nu, mambu! Kok bau bangke ya? Perasaanku gak enak, dobrak aja yoh!”
Bunyi hentakan keras mengiringi derap langkah terburu. Pintu terhempas membentur dinding, seperti gerak lambat, ada jeda sekian detik sebelum mereka melihat tubuhnya tak bergerak di bawah. Tiga lelaki dewasa masuk menguasai kamarnya. Bayu masih berbaring tenang dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Ketiga lelaki mendekati tubuhnya, mengguncang-guncang badannya. Bayu tetap tanpa suara. Bertiga mereka mengangkat tubuhnya, bergegas ke rumah sakit meski tahu sia-sia. Bayu melanjutkan lamunannya dalam posisi yang sama.
Tentang mimpinya menjadi musisi, sebuah album solo tanpa aturan yang tak sesuai idealisme. Tentang kekasih cantiknya yang begitu banyak kecewa, ingin segera dibayarnya dengan rasa bangga. Tentang masa muda yang tersia-sia oleh pergaulan kota. Tentang hidup dan sejuta cita-cita, yang sekarang hanya bisa dibayangkannya.
Jakarta, 14 Maret 2011
*sedang mengenang